![]() | |||
|
Home Definisi Ekowisata Pedoman Ekowisata Konsep Ekowisata Konsultan Ekowisata Diktat Ekowisata Buku Ekowisata Gallery Ekowisata Link Ekowisata Email Ekowisata
EKOWISATA INDONESIA
Ekowisata BaliEkowisata Bintan Ekowisata Jabar Ekowisata Kalsel Ekowisata Lombok Ekowisata Sulsel Ekowisata Sumut
KRITERIA EKOWISATA
PendahuluanTujuan dan Sasaran Batasan dan Pengertian Pengembangan Ekowisata Kegiatan Wisata di Taman Nasional Kriteria Ekowisata
STUDY KASUS
Pendahuluan & LatarBelakang Study Kelayakan Ekowisata Tim Pengembangan Ekowisata Perencanaan Kegiatan Proyek Pelaksanaan Kegiatan Proyek Pelatihan Ekowisata ![]() ![]() ![]()
FREE EDUCATION
Free Kindergarten Printable ActivitiesEarly Childhood Education Online Degree Printable Kids Activities Early Learning Toys Free Educational Resources Free Classes Online Free Language Courses For Kids Free Scholarship and Grants Programs Grade 1 Math Worksheets Teachers Web Resources Grade 1 Science and Technology Free Online Courses Free Kindergarten Activities Grade 1 Worksheets Free Homeschool For Kids Free Continuing Education Free Homeschool Early Childhood Education Free Education for Kids and Adult Free Printable Kindergarten Worksheets Free K12 School Resources Free Courses & Classes Free Preschool Activities Math Worksheets For Kindergarten Kids Scholarship Guide College Degree Online |
KRITERIA EKOWISATAKriteria Pengembangan Ekowisata dalam rangka pengendalian kerusakan keanekaragaman hayati di Taman Nasional dan Taman Wisata AlamNaskah ini diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Kerusakan Keanekaragaman Hayati, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, 2001. Dalam website ini naskah di pecah ke dalam beberapa halaman.
Custom Search
![]() PENDAHULUAN
Latar Belakang Ada satu kenyataan lain yang akhir-akhir ini menjadi perhatian masyarakat, baik nasional maupun internasional bahwa kekayaan yang hampir seluruhnya berada di kawasan yang disebut hutan, kini menghadapi ancaman dan tekanan yang semakin besar, dimana illegal logging adalah salah satu isu yang telah menjadikan citra Indonesia kurang menguntungkan. Tekanan terhadap kawasan-kawasan hutan bahkan menjadi semakin berat dengan masuknya berbagai bentuk investasi, dengan dalih otonomi dan kepentingan masyarakat lokal, termasuk salah satunya pariwisata. Padalah wilaya hutan dan perairan dengan seluruh kekayaannya merupakan modal dasar pengembangan pariwisata alam yang menurut futurist John Naisbitt (1994), dalam bukunya Global Paradox, akan merupakan salah satu industri besar di milenium ketiga disamping telekomunikasi dan trasportasi. Perkembangan di dua sektor ini adalah meningkatnya perjalanan-perjalanan, yang dalam dekade terakhir ini banyak menuju ketempat-tempat alami sebagai wujud pelepasan waktu luang dan keinginan masyarakat teknologi maju untuk kembali ke alam. Kebenaran ramalan tersebut sangat beralasan karena dengan semakin majunya teknologi komunikasi dan transportasi, penduduk dunia menjadi semakin mudah mendapatkan informasi dan menjangkau sampai ke relung tersembunyi di bumi ini. Padalah tahun 1993, misalnya, sekitar 500 juta orang berpergian keliling dunia dan 4,21 milyar dolar Amerika dibelanjakan di perjalanan. Di tahun 200, World Tourism Organization memproyeksikan wisatawan dunia mencapai 661 juta orang dan 15,28 persen wisatawan mancanegara berkunjung ke Asia Pasifik termasuk Indonesia. Peningkatan jumlah wisatawan setiap tahunnya diperkirakan sebesar 4,3% dan diperkirakan terus meningkat hingga 6,7% per tahun. Bersamaan dengan masuknya isu lingkungan ke dalam politik dan berbagai segi kehidupan, muncullah istilah eco-tourism. Kekhawatiran akan lingkungan tidak lagi merupakan ‘minat khusus’, melainkan sudah menjadi minat banyak orang yang akhir-akhir ini mengunjungi alam karena timbulnya keinginan kuat untuk melihat berbagai bagian dunia sebelum semua kemegahannya lenyap. Tak heran bahwa dari perjalanan-perjalanannya berasal dari perjalanan atau tourism berbasis alam yang sejak 1989 berkembang sangat pesat dengan keanikan 30% persen setiap tahun. Di abad ini bahkan diperkirakan kurang lebih separuh dari 600 sampai 700 juta orang yang mengadakan perjalanan akan menuju ke alam. The Ecotourism Society (TES) berdasarkan hasil survey yang dilakukan perusahaan konsultan HLA dan ARA di Amerika Utara, mendeskripsikan profile ‘eco-tourist’ sebagai berikut:
Banyak masyarkat Indonesia belum sepenuhnya tanggap akan fungsi hutan dan ekosistemnya yang sangat menjanjikan tersebut. Masih banyak yang menganggap hutan hanya sebagai penghasil kayu untuk memperoleh manfaat ekonomi secara cepat dan mudah. Hutan dan perairan dengan keanekaragaman hayati dan keunikan ekosistem yang ada di dalamnya belum dipandang sebagai satu kesatuan yang saling terkait, yang tidak hanya akan bermanfaat secara ekonomi, namun akan menjaga keberlanjutan manfaat itu sendiri termasuk budaya dan sosial. Salah satu pengelolaan hutan yang diyakini baik oleh para pakar pembangunan maupun konservasi mampu memberikan manfaat ekonomi, budaya dan sosial secara berkelanjutan adalah pengembangan eco-tourism. Ecotourism adalah salah satu mekanisme pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Eco-tourism tidak hanya diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara regional maupun lokal untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat, namun juga memelihara kelestarian sumber daya alam, dalam hal ini keaneka ragaman hayati sebagai daya tarik wisata. Eco-tourism merupakan usaha untuk melestarikan kawasan yang perlu dilindungi dengan memberikan peluang ekonomi kepada masyarakat yang ada disekitarnya. Konsep yang memanfaatkan kecendrungan pasar back to nature ini merupakan usaha pelestarian keanekaragaman hayati dengan menciptakan kerja sama yang erat antara masyarakat yang tinggal disekitar kawasan yang perlu dilindungi dengan industri pariwisata. Ecotourism adalah gabungan antara konservasi dan pariwisata di mana pendapatan yang diperoleh dari pariwisata seharusnya dikembalikan kepada kawasan yang perlu dilindungi untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati serta perbaikan sosial ekonomi masyarakat disekitarnya. | ||