Kriteria Ekowisata
Home
Definisi Ekowisata
Pedoman Ekowisata
Konsep Ekowisata
Konsultan Ekowisata
Diktat Ekowisata
Buku Ekowisata
Gallery Ekowisata
Link Ekowisata
Email Ekowisata

EKOWISATA INDONESIA
Ekowisata Bali
Ekowisata Bintan
Ekowisata Jabar
Ekowisata Kalsel
Ekowisata Lombok
Ekowisata Sulsel
Ekowisata Sumut

KRITERIA EKOWISATA
Pendahuluan
Tujuan dan Sasaran
Batasan dan Pengertian
Pengembangan Ekowisata
Kegiatan Wisata
di Taman Nasional

Kriteria Ekowisata

STUDY KASUS
Pendahuluan & Latar
Belakang

Study Kelayakan
Ekowisata

Tim Pengembangan
Ekowisata

Perencanaan Kegiatan
Proyek

Pelaksanaan Kegiatan
Proyek

Pelatihan Ekowisata

Bintan island holiday and travel
romantic honeymoon travel
Bali tourism guide

FREE EDUCATION
Free Kindergarten Printable Activities
Early Childhood Education Online Degree
Printable Kids Activities
Early Learning Toys
Free Educational Resources
Free Classes Online
Free Language Courses For Kids
Free Scholarship and Grants Programs
Grade 1 Math Worksheets
Teachers Web Resources
Grade 1 Science and Technology
Free Online Courses
Free Kindergarten Activities
Grade 1 Worksheets
Free Homeschool For Kids
Free Continuing Education
Free Homeschool
Early Childhood Education
Free Education for Kids and Adult
Free Printable Kindergarten Worksheets
Free K12 School Resources
Free Courses & Classes
Free Preschool Activities
Math Worksheets For Kindergarten Kids
Scholarship Guide
College Degree Online

KRITERIA EKOWISATA


Kriteria Pengembangan Ekowisata dalam rangka pengendalian kerusakan keanekaragaman hayati di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam


Naskah ini diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Kerusakan Keanekaragaman Hayati, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, 2001. Dalam website ini naskah di pecah ke dalam beberapa halaman.

Custom Search


PENDAHULUAN

Latar Belakang
Luas daratan Indonesia hanya meliputi 1,32% dari seluruh luas daratan bumi, namun World Conservation Monitoring Center yang bermarkas di Inggris menempatkan Indonsesia pada urutan kedua setelah Brazil dalam hal keaneka ragaman hayati yang terkandung, baik daratan maupun diperairannya. Dari keanekaragaman hayati yang ada di bumi ini, Indonesia memiliki 10% jenis tumbuhan berbunga, 12% binatang menyusui, 16% reptilia dan amphibia, 17% jenis burung, 25% jenis ikan dan 15% jenis seranga. Indonesia yang mempunyai kedudukan istimewa ini menjadi semakin unik karena dari sekitar 500-600 jenis mamalia besar yang dimiliki, 36 persennya merupakan jenis endemik; dari 35 jenis primata yang ada, 25 persennya termasuk jenis endemik; dan dari 78 jenis burung paruh bengkok, 40 persennya merupakan jenis endemik; dan dari 121 jenis kupu-kupu, 44 persennya adalah jenis endemik. Dari kenyataan itu pula Indnesia di kenal sebagai salah satu negara mega bio-diversity atau mega-center keanekaragaman hayati di dunia.

Ada satu kenyataan lain yang akhir-akhir ini menjadi perhatian masyarakat, baik nasional maupun internasional bahwa kekayaan yang hampir seluruhnya berada di kawasan yang disebut hutan, kini menghadapi ancaman dan tekanan yang semakin besar, dimana illegal logging adalah salah satu isu yang telah menjadikan citra Indonesia kurang menguntungkan. Tekanan terhadap kawasan-kawasan hutan bahkan menjadi semakin berat dengan masuknya berbagai bentuk investasi, dengan dalih otonomi dan kepentingan masyarakat lokal, termasuk salah satunya pariwisata.

Padalah wilaya hutan dan perairan dengan seluruh kekayaannya merupakan modal dasar pengembangan pariwisata alam yang menurut futurist John Naisbitt (1994), dalam bukunya Global Paradox, akan merupakan salah satu industri besar di milenium ketiga disamping telekomunikasi dan trasportasi. Perkembangan di dua sektor ini adalah meningkatnya perjalanan-perjalanan, yang dalam dekade terakhir ini banyak menuju ketempat-tempat alami sebagai wujud pelepasan waktu luang dan keinginan masyarakat teknologi maju untuk kembali ke alam. Kebenaran ramalan tersebut sangat beralasan karena dengan semakin majunya teknologi komunikasi dan transportasi, penduduk dunia menjadi semakin mudah mendapatkan informasi dan menjangkau sampai ke relung tersembunyi di bumi ini. Padalah tahun 1993, misalnya, sekitar 500 juta orang berpergian keliling dunia dan 4,21 milyar dolar Amerika dibelanjakan di perjalanan. Di tahun 200, World Tourism Organization memproyeksikan wisatawan dunia mencapai 661 juta orang dan 15,28 persen wisatawan mancanegara berkunjung ke Asia Pasifik termasuk Indonesia. Peningkatan jumlah wisatawan setiap tahunnya diperkirakan sebesar 4,3% dan diperkirakan terus meningkat hingga 6,7% per tahun.

Bersamaan dengan masuknya isu lingkungan ke dalam politik dan berbagai segi kehidupan, muncullah istilah eco-tourism. Kekhawatiran akan lingkungan tidak lagi merupakan ‘minat khusus’, melainkan sudah menjadi minat banyak orang yang akhir-akhir ini mengunjungi alam karena timbulnya keinginan kuat untuk melihat berbagai bagian dunia sebelum semua kemegahannya lenyap. Tak heran bahwa dari perjalanan-perjalanannya berasal dari perjalanan atau tourism berbasis alam yang sejak 1989 berkembang sangat pesat dengan keanikan 30% persen setiap tahun. Di abad ini bahkan diperkirakan kurang lebih separuh dari 600 sampai 700 juta orang yang mengadakan perjalanan akan menuju ke alam.

The Ecotourism Society (TES) berdasarkan hasil survey yang dilakukan perusahaan konsultan HLA dan ARA di Amerika Utara, mendeskripsikan profile ‘eco-tourist’ sebagai berikut:

  • 82% berpendidikan akhir Universitas, walaupun secara jelas berbeda aktifitas yang diminatinya.
  • 60% cenderung melakukan perjalanan bersama pasangan dan 15% melakukan bersama keluarga serta 13% senang melakukan perjalanan sendiri.
  • Lebih dari 50% pasar eco-tourism melakukan perjalanan selama 8-14 hari.
  • Eco-tourist bersedia mengeluarkan lebih dari wisatawan umum, 26% bersedia menghabiskan $1,000 – 1,500 setiap perjalanan.
  • Perjalanan dan pengalaman yang paling disukai adalah keunikan dan keaslian alam, pengamatan satwa dan jelajah hutan.

Banyak masyarkat Indonesia belum sepenuhnya tanggap akan fungsi hutan dan ekosistemnya yang sangat menjanjikan tersebut. Masih banyak yang menganggap hutan hanya sebagai penghasil kayu untuk memperoleh manfaat ekonomi secara cepat dan mudah. Hutan dan perairan dengan keanekaragaman hayati dan keunikan ekosistem yang ada di dalamnya belum dipandang sebagai satu kesatuan yang saling terkait, yang tidak hanya akan bermanfaat secara ekonomi, namun akan menjaga keberlanjutan manfaat itu sendiri termasuk budaya dan sosial.

Salah satu pengelolaan hutan yang diyakini baik oleh para pakar pembangunan maupun konservasi mampu memberikan manfaat ekonomi, budaya dan sosial secara berkelanjutan adalah pengembangan eco-tourism. Ecotourism adalah salah satu mekanisme pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Eco-tourism tidak hanya diyakini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara regional maupun lokal untuk meningkatkan kesejahtraan masyarakat, namun juga memelihara kelestarian sumber daya alam, dalam hal ini keaneka ragaman hayati sebagai daya tarik wisata. Eco-tourism merupakan usaha untuk melestarikan kawasan yang perlu dilindungi dengan memberikan peluang ekonomi kepada masyarakat yang ada disekitarnya. Konsep yang memanfaatkan kecendrungan pasar back to nature ini merupakan usaha pelestarian keanekaragaman hayati dengan menciptakan kerja sama yang erat antara masyarakat yang tinggal disekitar kawasan yang perlu dilindungi dengan industri pariwisata. Ecotourism adalah gabungan antara konservasi dan pariwisata di mana pendapatan yang diperoleh dari pariwisata seharusnya dikembalikan kepada kawasan yang perlu dilindungi untuk perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati serta perbaikan sosial ekonomi masyarakat disekitarnya.



Preschool Lesson Plans Free Kindergarten Curriculum Early Childhood Education Free Language Courses
Free America History K-12 Pharmacy Continuing Education Free Education for All Free Homeschool Math Games
Lesson Plan Templates Free Italian Course Learning Graph for Kindergarten Free Education Loans
Free Dance Classes

Copy Right © www.ekowisata.info - All Right Reserved. Contact : webmaster